ILMU UNTUK SEMUA....

MATI ITU SEBAGAI PERINGATAN

Isnin, 27 Disember 2010





Dalam kehidupan para sahabat, sering membuat orang kehairanan kerana karamah Ilahi yang diberikan kepada mereka untuk menolong mereka dalam menyiarkan agama Allah dan menghapus kejahilan yang membelenggu akal manusia. Di antara para sahabat ada yang diberi karamah dapat menyaksikan malaikat yang sedang memukul pasukan kafir di medan peperangan; seperti Abu Thalhah. Di antara mereka ada yang diberi karamah Allah melihat malaikat yang menjelma menjadi payung di atas rumahnya ketika ia membaca Al-Quran, seperti Usaid Ibnu Al-Hudair.

Di antara mereka ada pula yang diberi karamah Allah, ia dapat menurunkan hujan bila ia menadahkan tangannya ke langit dan berdoa kepada Allah agar hujan diturunkan, maka Allah segera mengabulkan doanya, seperti Al-Abbas bapa saudara Rasulullah SAW.
Di antara mereka ada yang diberi karamah Allah, tongkat boleh berubah menjadi lampu yang menyinari jalannya pada malam yang gelap gelita, seperti Thufail Ad-Dausi. Di antara mereka ada yang mendapat kiriman makanan dari Allah, ketika ia dipenjara kaum musyrikin, di dalam bilik yang tertutup, seperti Khabab Ibnu Al-Arat. Di antara mereka ada pula yang setelah mati syahid jenazahnya dimandikan oleh malaikat seperti Handhalan Ibn Abi Amir.

Beraneka ragam karamah dari Allah yang diberikan kepada para sahabat yang disebutkan sejarah Islam di mana kisah-kisahnya dikuatkan oleh sanad-sanad yang tidak dicampuri oleh keraguan. Karamah Allah yang diberikan kepada Abu Umamah Al-Bahili telah menyebabkan kaumnya tercengang kerana takjub. Maka mereka segera memeluk agama Islam yang didakwahkan Abu Umamah, hati mereka terbuka untuk menerima cahaya Ilahi, meskipun sebelum itu hati mereka terbelenggu oleh ajaran jahiliyah yang berisi kesesatan dan dugaan saja.

Adapun sebab-sebab kaum Abu Umamah masuk Islam adalah kerana pada suatu hari Suday Ibn Ajlan yang biasa dipanggil Abu Umamah datang kepada kaumnya dan mengajak mereka menyembah Allah. Abu Umamah mengisahkan peristiwa yang terjadi ketika ia bersama kaumnya yang menggembala. Ia berkata: “Ketika aku datang kepada kaumku, mereka telah memberi minum kambing-kambing mereka, memerah susunya dan meminumnya.

Ketika mereka melihat kedatanganku, mereka berkata: “Selamat datang wahai Suday Ibn Ajlan, kami mendengar bahawa kamu telah cenderung pada Muhammad.” Jawabku: “Tidak, tetapi aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah telah mengutus aku kepada kalian supaya menunjukkan Islam kepadamu.”

Ketika aku sedang bersama dengan mereka, tiba-tiba mereka menghidangkan bekas yang berisi darah, kemudian mereka berkumpul di sekelilingnya. Mereka berkata kepadaku: “Wahai Suday Ibn Ajlan, kemarilah.” Aku berkata kepada mereka: “Celakalah kalian! Aku datang kepadamu sebagai utusan dari orang yang mengharamkan atas kalian makanan semacam ini kecuali yang disembelih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.”
Mereka bertanya: “Bagaimana bunyi firman-Nya?”
Jawabku. “Telah diturunkan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang makanan yang diharamkan:
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging haiwan) yang disembelih atas nama selain Allah, (haiwan) yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas kecuali sempat kamu sembelih, dan (diharamkan bagi) yang disembelih untuk berhala.”
(Al-Maidah: 3)

Kemudian aku mengajak mereka kepada Islam, tetapi mereka menolak, ketika aku kehausan aku berkata kepada mereka: “Berilah aku minuman air, sungguh aku sangat haus.” Mereka berkata: “Tidak, kami akan membiarkan kamu mati kehausan.” Setelah itu aku membungkus kepalaku dengan kain serban kemudian aku tidur di bawah terik matahari yang sangat panas, dan aku biarkan mereka makan darah.

Tiba-tiba dalam tidurku aku melihat seseorang datang kepadaku dengan membawa sebuah bekas yang dibuat dari kaca; aku tidak pernah melihat bekas yang sebaik itu. Di dalamnya ada minuman yang menyegarkan yang tak pernah aku dapatkan di dunia. Aku mengambil bekas itu dan segera meminumnya hingga aku merasa kenyang. Setelah selesai minum, aku bangun. Demi Allah sejak saat itu aku tidak pernah haus sama sekali.

Ketika aku kenyang, salah seorang daripada mereka berkata pada mereka: “Telah datang padamu seorang dari keluarga kamu, mengapa kamu tidak memberinya makan.” Maka mereka datang kepadaku dengan membawa segelas susu; maka aku katakan pada mereka: “Aku tidak perlu lagi minuman ini.” Kemudian aku memperlihatkan perutku yang sudah kenyang pada mereka, sehingga mereka akhirnya masuk Islam.” Mereka meninggalkan berhala-berhala mereka dan masuk Islam. Mereka masuk Islam dengan hati yang rindu pada cahaya Ilahi dan kesucian agama Islam.

Abu Umamah adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW yang dipilih Islam untuk menyampaikan sinar Islam, ia belajar Islam dari Rasulullah SAW dan ia menjalankan apa yang diajarkan padanya dengan penuh ketaatan dan kesungguhan.

Pada suatu ketika, ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan ucapan salam kesejahteraan untuk umat kita dan jaminan bagi ahli Dhimmah kita.” Sejak itu Abu Umamah sentiasa memberi salam kepada setiap yang dijumpainya. Tidaklah ia bertemu dengan seorang muslim baik itu muslim kecil atau besar, melainkan ia mengucapkan:

“Assalamu’alaikum.”

Tidak seorang pun yang mendahului ia mengucapkan salam, kecuali hanya sekali saja. Iaitu ketika ada seorang Yahudi bersembunyi di balik pohon, kemudian Yahudi itu keluar dengan secara tiba-tiba dan mengucapkan salam padanya.
Maka Abu Umamah berkata padanya: “Celakalah kamu wahai orang Yahudi, apa yang mendorongmu untuk berbuat demikian?”
Jawab Yahudi itu; “Kamu adalah orang yang banyak mengucapkan salam, dan aku tahu itu lebih utama, maka aku ingin mendapatkan keutamaan itu dengan mengucapkan salam lebih dulu.”
Maka jawab Abu Umamah, “Sesungguhnya salam adalah ajaran akhlak Islam yang diajarkan oleh Rasulullah pada kami.”

Hal lain yang didapatkan oleh Abu Umamah dari Rasulullah adalah perintah untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Pada suatu ketika bonda Abu Umamah sedang sakit, maka baginda menyuruh Abu Umamah supaya tetap mendampingi ibunya hingga meninggal pada saat peperangan berlangsung. Setelah Rasulullah SAW memperoleh kemenangan pada peperangan tersebut dan baginda kembali ke Madinah, maka baginda mendatangi kubur bonda Abu Umamah dan meminta rahmat bagi almarhumah.

Abu Umamah salah seorang yang berbaiat kepada Rasulullah pada baiatur Ridwan yang diikrarkan di bawah pohon, hingga akhirnya kaum musyrikin mengajak berdamai dengan kaum muslimin yang terkenal dengan “Perjanjian al-Hudaibiyah.” Peristiwa itu terjadi pada 6 H. Ketika turun firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Fath ayat 18 yang ertinya: “Sungguh Allah telah reda terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepada-Mu di bawah pohon, maka Allah telah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kesenangan yang dekat (waktunya).” Abu Umamah berkata: “Wahai Rasulullah SAW, aku termasuk orang yang berbaiat pada-Nya di bawah pohon itu.”
Rasulullah berkata padanya: “Kamu bahagian dari aku dan aku bahagian dari kamu.”

Abu Umamah sangat haus dengan ilmu pengetahuan; ketika ia mendengar suatu kalimat dari Rasulullah SAW maka ia menghafalkan. Ketika ia ditanya tentang rahsia mengapa ia lebih mengutamakan ilmu daripada berbaiat, ia berkata: “Tatkala Rasulullah SAW ditanya tentang dua orang, yang satu orang ahli ibadah dan yang satu seorang ahli ilmu, mana yang lebih utama dari keduanya? Rasulullah SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah itu, bagaikan keutamaan diriku daripada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang ramai.” Kemudian baginda membaca ayat (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama).

Di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh Abu Umamah Al-Bahili ialah sabar ketika ditimpa musibah, tidak pernah mengadukan persoalannya kepada orang lain, mensyukuri nikmat meskipun nikmat itu hanya sedikit. Sifatnya yang penyabar dan banyak bersyukur melapangkan hatinya dalam menghadapi berbagai kesusahan, meskipun kesusahan itu lebih berat dari sebuah gunung. Tapi ia mampu menanggungnya dengan iman yang teguh, kerana ia tahu, bahawa semua itu telah ditakdirkan Allah atas dirinya. Harta kekayaan tidak pernah ada ertinya bagi dirinya, oleh kerana itu ia selalu berpaling dari kesenangan duniawi kerana ia tidak menyukainya. Sekalipun ia tidak pernah mengunjungi para penguasa atau gabenor daerah.

Abu Umamah banyak hafal khutbah-khutbah Rasulullah dan ia senang meriwayatkan khutbah itu dengan nasihatnya yang benar dan terang.

Ia hidup sampai usia lanjut, keadaan badannya telah lemah dan kesihatannya telah menurun, meskipun demikian ia tidak pernah meninggalkan solat berjemaah baik ketika musim dingin atau pada musim panas. Lisannya tidak pernah dikotori perbuatan mengumpat atau mengadu domba. Ia tidak pernah membiarkan sesuatu masuk dalam fikirannya kecuali hanya Allah.

Ia berkisah pada suatu hari, ia meminta Rasulullah agar baginda menyuruhnya melakukan sesuatu amalan yang bermanfaat bagi dirinya di sisi Allah. Maka Rasulullah SAW bersabda padanya: “Hendaklah kamu sentiasa berpuasa, kerana pahala puasa tiada bandingan.” Sejak itu Abu Umamah berserta keluarga dan pelayannya selalu berpuasa. Dan mereka hanya memakan roti kering dan garam, mereka tidak menyalakan api kecuali bila ada tamu.

Abu Umamah belum merasa cukup dengan hanya berpuasa setahun, setelah itu ia datang pada Rasulullah SAW dan berkata pada baginda: “Wahai Rasulullah, engkau telah menyuruhku mengerjakan amalan (puasa), kini aku berharap agar Allah memberi manfaat padaku dengan amalan itu.” Rasulullah SAW bersabda padanya: “Ketahuilah, bahawa kamu tidak akan bersujud pada Allah sekalipun melainkan Allah akan mengangkat darjatmu dengan sujud itu atau Dia akan menghapus dosa-dosamu kerana sujud itu.”

Meskipun Abu Umamah orang yang tidak kaya, tetapi ia seorang dermawan, ia sering memberikan apa saja yang ada padanya. Ia tidak peduli apakah ada sesuatu yang untuk dimakan pada hari ini atau tidak, bahkan ia tidak pernah memberikan roti atau bawang jika tidak ada sesuatu yang lain untuk diberikan. Isterinya meriwayatkan: “Pada suatu hari di rumahnya tidak ada apa pun kecuali hanya wang 3 dinar. Tiba-tiba ada seorang pengemis di depan rumah, maka ia memberinya pengemis 1 dinar. Kemudian datang pula pengemis lain maka ia memberikan satu dinar, dan begitu juga untuk pengemis yang ketiga datang.

Akhirnya aku marah dan berkata padanya: “Kita sudah tidak memiliki apa-apa.” Maka kemudian ia berbaring di atas tempat tidur dan menutup pintu sampai azan Zuhur. Aku datang padanya dan membangunkannya, maka ia pergi ke masjid dalam keadaan berpuasa, sehingga aku kasihan padanya, maka aku meminjam wang untuk membeli makanan untuknya berbuka.

Ketika aku menyiapkan lampu dan makan malam, ia berkata: “Hidangan ini lebih enak daripada yang lain.” Setelah ia baru selesai makan malam, tiba-tiba salah seorang sahabatnya datang dan berkata padanya: “Wahai Abu Umamah, ini wang sejumlah 3,000 dinar sebagai keuntungan pinjaman dari wang yang aku pinjam darimu beberapa tahun yang lalu.” Maka ia menatapkan wajahnya ke langit sambil berbisik: “Wang satu dinar dibalas dengan seribu dinar, alangkah besarnya balasan Zat Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Pada tahun 86 H. Abu Umamah meninggal dunia menuju kampung akhirat untuk menikmati kehidupan di hadirat Allah, dengan memperoleh balasan sebagai orang mukmin, ahli ibadah, penyabar dan orang yang bersyukur.

WALLAHUALAM...




Siang dan malam tiada yang dilakukan kecuali hanya rukuk dan sujud kepada Allah. Setiap sehari semalam ia solat tidak kurang dari 1,000 rakaat. Dirinya hanya untuk beribadah kepada Allah. Ia selalu berusaha agar dirinya setingkat dengan para malaikat yang sentiasa bertasbih siang dan malam yang tidak pernah lupa berzikir kepada Allah walau sesaat pun. Setiap hari ia hanya makan beberapa suap saja, sekadar ia dapat hidup; kerana itu badannya sangat kurus. Tetapi dalam badan yang kurus itu terdapat kekuatan rohani yang mengagumkan yang menyebabkan ia dapat melaksanakan solat yang ia tekankan atas dirinya.

Ia hidup membujang; meskipun khalifah Muawiyah Ibnu Sufyan telah menawarkan padanya untuk melamar wanita yang ia senangi; dan mas kahwinnya akan diambilkan dari Baitul Mal, tapi Amir Ibnu Abdullah hanya ingin mengabdikan dirinya kepada Allah, ia bertekad tidak akan ada sesuatu yang dapat melalaikannya dari beribadah kepada Allah.

Ia adalah seorang tabi’in yang mencapai puncak zuhud. Ia berkata: “Kenikmatan dunia itu ada empat, harta, wanita, tidur dan makanan. Adapun harta dan makan, aku tidak dapat meninggalkannya. Tetapi demi Allah, dengan tidur dan makan aku memeras tenagaku.”

Keperluannya pada tidur dan makan menyerupai keperluannya pada solat malam dan puasa di siang harinya. Setiap syaitan berusaha mendekati tempat sujudnya, maka ia mencium bau syaitan yang busuk; dan jika ia mendapatkan bau syaitan, maka ia menyingkirkan dengan tangan dan berkata: “Andaikan bukan kerana bau busukmu, nescaya aku sujud di atasmu.”

Pada suatu ketika syaitan datang padanya dengan menjelma menjadi ular, ketika ia menyingkirkannya dengan tangan, syaitan berkata: “Apakah kamu tidak takut digigit ular?” Jawabnya: “Sungguh aku malu kepada Allah jika aku takut kepada selain Dia.”

Amir terus meneruskan solat sepanjang siang dan malam, hingga betis dan telapak kakinya bengkak. Ia selalu berkata: “Wahai jiwa yang selalu mengajak kepada kejahatan, sesungguhnya kamu diciptakan untuk beribadah. Demi Allah, aku akan memaksamu melakukan ibadah tanpa ada kesempatan untuk tidur. Setiap hari ia pergi ke suatu bukit untuk menjauhkan diri dari keramaian orang, dan mengisinya dengan beribadah di sana.

Pada suatu hari, ia keluar rumah dan terus berjalan hingga sampai di lembah “Buas,” dinamakan lembah buas kerana di situ banyak terdapat binatang buas. Tiada seorang pun yang berani memasuki lembah itu kecuali orang-orang sufi yang berhati tulus, yang hati dan jiwa mereka hanya takut kepada Allah, mereka tidak takut pada apa pun kecuali Allah; meskipun binatang buas atau ular berbisa.

Ketika Amir menuruni lembah itu, ia dapatkan di lembah itu ada ahli sufi lain seperti dirinya, ia bernama “Humamah” solat di suatu sudut. Keduanya berada di lembah selama empat puluh hari tanpa saling berbicara, kerana masing-masing sedang tekun beribadah dan solat.

Suatu ketika Amir Ibnu Abdullah ingin mengenal orang yang tinggal di lembah itu dan giat dalam beribadah, maka ia datang pada orang itu dan bertanya: “Siapakah kamu, hai hamba Allah?” Orang itu berkata: “Tinggalkan aku.” Kata Amir, “Aku bersumpah tidak akan meninggalkan kamu sebelum aku tahu dirimu.” Kata orang itu, “Aku Humamah Al-Habsyi.”

Kata Amir, “Jika kamu Humamah Al-Habsyi seperti yang pernah aku dengar, kamu pasti orang yang paling banyak beribadah di dunia ini. Beritahukan padaku perkara yang paling utama.” Kata Humamah. “.. Andaikan bukan kerana beberapa ketentuan solat yang mengharuskan berdiri dan sujud, nescaya aku lebih senang menghabiskan umurku untuk terus rukuk dan membiarkan wajahku bersujud kepada Allah hingga aku bertemu dengan-Nya. Akan tetapi solat-solat fardhu tidak membolehkan aku melakukan itu. Dan siapakah kamu?” Jawab Amir. “Aku Amir Ibnu Abdu Qais.”

Kata Humamah, “Jika kamu Amir seperti yang pernah aku dengar, pasti kamu seorang yang paling banyak beribadah. Maka beritahukan padaku perkara yang paling utama.” Kata Amir. “Sungguh rasa takutku kepada Allah membuat aku tidak takut kepada apa pun kecuali pada-Nya.”

Di saat Amir dan Humamah sedang berbicara tentang ibadah dan taat kepada Allah, tiba-tiba datang seekor binatang buas di belakang Amir dan meloncat ke atasnya, maka Amir menyapu binatang itu dengan tenang sambil membaca ayat Al-Quran, “Dzaalika yaumu majmuu’ul lahunnasu wa dzaalika yaumun masyhud.” “Hari kiamat itu adalah hari yang mana manusia dikumpulkan untuk (menghadap)Nya, dan hari itu adalah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).”

Tiba-tiba binatang buas itu duduk mengibaskan ekornya seperti kucing yang jinak. Ketika Humamah menyaksikan hal itu, ia bertanya pada Amir: “Demi Allah, wahai Amir, bagaimana kamu boleh berbuat demikian?” Jawab Amir: “Bukankah sudah kukatakan padamu, sungguh aku malu kepada Allah jika aku takut selain Dia.”

Ia adalah seorang ahli zuhud, bujangan yang mempunyai rumah. Ia mempunyai saudara perempuan wanita yang bernama Ubadah yang setiap hari membuatkannya roti dan mengirimkan roti itu kepadanya. Tapi setiap ia menerima kiriman roti, ia segera keluar mengundang anak-anak yatim untuk makan roti tersebut. Ia berkata pada saudara sepupunya: “Wahai Ubadah, sabarlah atas apa yang menimpamu di dunia ini dengan membaca Al-Quran, kerana barangsiapa yang tidak senang membaca Al-Quran, maka ia akan meninggalkan dunia dalam keadaan menyesal.”

Pada hari-hari tertentu, Amir Ibnu Abdu Qais mengadakan majlis di masjid. Di antara kata yang pernah disampaikan kepada majlisnya; Aku pernah bertemu dengan beberapa sahabat Rasulullah dan bergaul dengan mereka; mereka memberitahu aku, bahawasanya pada hari kiamat, orang yang paling suci dari dosa ialah orang yang paling memperhitungkan dirinya dalam setiap langkahnya; orang yang paling senang di dunia, akan menjadi orang yang paling sedih di hari kiamat; dan orang yang paling banyak tertawa di dunia, ia akan menjadi orang yang paling banyak menangis di hari kiamat.”

Walaupun Amir seorang yang zuhud, ia tidak membiarkan seseorang yang berbuat zalim, meskipun orang yang dizalimi itu bukan orang Islam. Pada suatu hari, ia menyaksikan orang kafir dzimmi ditarik oleh beberapa orang yang menjadi kaki tangan penguasa Basrah. Orang dzimmi itu minta tolong padanya, maka ia melepaskannya dari seksaan mereka dan berkata kepada mereka. “Jangan menyeksa seorang dzimmi yang telah dijamin oleh Rasulullah SAW selagi aku masih hidup.” Setelah gabenor Basrah mengetahui apa yang diperbuat oleh Amir, maka ia memerintahkan supaya Amir dibuang ke Syam, agar Amir tidak akan kembali padanya atau melakukan sesuatu yang bukan haknya.

Tatkala Amir akan berangkat ke Syam, ia mengumpulkan kawannya untuk mengantarkan ke perbatasan kota, ia berkata pada mereka: “Aku hendak berdoa kepada Allah, maka ucapkanlah ‘amin’.” Kawan-kawannya mengira akan berdoa kerana pembuangannya. Mereka berkata: “Sebenarnya kami telah menginginkan kamu berdoa.” Maka ia mengangkat kedua tangan dan berdoa: “Ya Allah, siapa yang memfitnah aku, mendustakan aku, mengeluarkan aku dari kota ini dan memisahkan aku dari kawan-kawanku; Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, sihatkanlah badannya dan panjangkanlah umurnya.”

Demikian itulah sifat Amir Ibnu Qais, ia mendoakan orang-orang yang telah berbuat zalim padanya dan mengusirnya dari Basrah tempat ia tinggal bersama keluarganya dan tempat berguru kepada Abu Musa Al-Asyari agar mereka diberi harta dan anak yang banyak, disihatkan badannya dan dipanjangkan umurnya.

Amir meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa sebagaimana ia lahir di dunia dengan tangan kosong. Ia hanya membawa bekal amal soleh yang menghantarkan ia sampai mencapai tingkat orang-orang soleh yang berbakti kepada Allah.

buatmu IBU-Aeman




Ibu bergenang air mataku
Terbayang wajahmu yang redup sayu
Kudusnya kasih yang engkau hamparkan
Bagaikan laut yang tak bertepian

Biarpun kepahitan telah engkau rasakan
Tak pula kau merasa jemu
Mengasuh dan mendidik kami semua anakmu
Dari kecil hingga dewasa

Hidupmu kau korbankan
Biarpun dirimu yang telah terkorban
Tak dapat kubalasi akan semua ini
Semoga Tuhan memberkati kehidupanmu ibu

Ibu kau ampunilah dosaku
Andainya pernah menghiris hatimu
Restumu yang amatlah aku harapkan
Kerana disitu letak syurgaku

Tabahnya melayani kenakalan anakmu
Mengajarku erti kesabaran
Kau bagai pelita di kala aku kegelapan
Menyuluh jalan kehidupan

Kasihanilah Tuhan ibu yang telah melahirkan diriku
Bagaikan kasih ibu sewaktu kecilku
Moga bahgia ibu di dunia dan di akhirat sana...

Kasih sayangmu sungguh bernilai
Itulah harta yang engkau berikan
Ibu... dengarlah rintih hatiku untukmu ibu

Ahad, 26 Disember 2010

ORANG PERTAMA MENGUMANDANGKAN AL-QURAN DI HADAPAN BANGSA QURAISY

Beliau termasuk di antara orang-orang yang pertama masuk Islam, bahkan termasuk dalam deretan keenam dari orang-orang yang memeluk agama Islam. Waktu itu usianya belum mencapai 15 tahun. Ia menyaksikan salah satu mukjizat Nabi SAW lalu mengujinya dan masuk Islam tanpa ragu. Sepanjang hayatnya beliau setia terhadap Rasul hingga akhir hayat beliau.
    Abdullah Ibn Mas’ud merupakan orang yang kuat menghafal Al-Quran. Ia mendengar ayat-ayat Al-Quran dari Nabi sendiri lalu menghafalnya sesuai dengan yang ia dengar. Nabi SAW pernah berkata: “Barangsiapa ingin membaca Al-Quran seperti keadaan/bacaan ketika diturunkannya, hendaklah ia membaca sebagaimana bacaan Ibn Ummi Abd (Abdullah Ibn Mas’ud).”
    Mengenai kisah masuk Islamnya adalah kerana ia menyaksikan sesuatu mukjizat Nabi sebagaimana diriwayatkannya: “Saat itu aku masih muda. Aku menggembala ternak milik Uqbah Ibn Mu’ith. Lalu datanglah Rasulullah SAW bersama Abu Bakar yang sedang menjauhkan diri dari orang-orang musyrik.
Nabi bertanya: “Hai pemuda, adakah engkau memiliki air susu yang boleh kami minum?”
Jawabku: “Tidak ada.”
Sabda Nabi: “Adakah kamu mempunyai seekor kambing betina usia empat tahun yang belum digauli oleh kambing jantan?”
Jawabku: “Ada.”
    Kemudian aku membawa kambing tersebut kepada baginda. Nabi memegang kambing itu sambil mengusap-usap tetek kambing seraya berdoa. Tiba-tiba susu kambing itu membesar, lalu Abu Bakar datang menuju baginda sambil membawa sebuah bekas, dan baginda memerah susu ke dalam bekas tadi. Setelah itu Rasulullah meminum susu tersebut lalu sisanya diberikan kepada Abu Bakar, kemudian diberikan kepadaku.
    Sesudah itu Nabi SAW bersabda yang ditujukan kepada susu kambing: “Menyusutlah.” Seketika itu juga susunya mengempis. Aku berkata kepada baginda: “Wahai Rasulullah, ajarilah aku ucapan tersebut!” Baginda menjawab: “Engkau adalah pemuda yang pandai!” Setelah aku masuk Islam, aku hafal 70 surat dari lisan baginda sendiri. Dan tiada seorangpun yang dapat menandingi aku dalam hal ini.”
    Sejak pertemuan pertama dengan Rasulullah dan kesaksiannya terhadap mukjizat tersebut, Abdullah Ibn Mas’ud mencapai darjat yang tinggi dalam iman. Dirinya dipenuhi dengan cahaya kebenaran dan setia kepada Nabi. Beliau menghafal wahyu satu demi satu dan membaca Al-Quran sebagaimana ia mendengarkannya dari Nabi. Beliau termasuk orang pertama yang mengumandangkan Al-Quran di hadapan kaum Quraisy tanpa rasa takut akan kemarahan dan balas dendam mereka kepadanya.
    Dia adalah seorang pemuda berbadan kurus, tidak memiliki suatu kesenangan duniawi. Ia merasa cukup kuat dengan kurnia Tuhan-Nya, sehingga menjadikannya pemberani dalam menghadapi peristiwa yang berbahaya. Waktu itu para sahabat Nabi berharap agar kaum Quraisy mahu mendengarkan Al-Quran, akan tetapi siapa yang berani mengumandangkan bacaannya di hadapan mereka? Hal ini merupakan peristiwa yang memerlukan keberanian dan pengorbanan teristimewa sekali kerana kaum Quraisy bersikap memusuhi terhadap agama baru (Islam).

    Tentu saja siapa pun yang berani mengumandangkan Al-Quran, yang merupakan seruan untuk memeluk agama itu, akan menemukan gangguan kaum Quraisy. Yahya Ibn Umayyah meriwayatkan peristiwa tersebut dengan ucapannya: 
“Abdullah Ibn Mas’ud merupakan orang yang pertama mengumandangkan Al-Quran setelah Rasulullah SAW.

    Suatu ketika para sahabat Nabi berkumpul, lalu mereka berkata: “Demi Allah, kaum kafir Quraisy tidak mendengar Al-Quran ini dikumandangkan sama sekali. Siapakah gerangan orang yang berani membuat mereka mendengarkannya?”
Spontan Abdullah Ibn Mas’ud berkata: “Saya!”
Para sahabat Nabi berkata: “Kami mengkhuatirkan keadaanmu. Kami menghendaki adanya seorang lelaki yang memiliki kabilah tersendiri yang boleh mencegah mereka darinya, jika mereka mahu.”
Jawab Abdullah Ibn Mas’ud: “Setelah itu, sesungguhnya Allah akan membelaku.”
    Kemudian berangkatlah Ibn Mas’ud hingga sampai pada tempat yang tinggi sedangkan kaum Quraisy ada di bawahnya. Ia berdiri lalu membaca: “Bismilla hirrahma nirrahim (dengan suara keras), ar-rahma ‘allamal Quran.” Setelah itu ia membaca di hadapan kaum kafir Quraisy.
    Timbullah dua ucapan dari mereka: “Apa yang diucapkan oleh Ibn Ummi Abd? Ia membaca sebahagian dari yang dibaca/dibawa oleh Muhammad. Lantas mereka berdiri menuju kepadanya. Terjadilah apa yang dikehendaki oleh Allah. Setelah itu ia pulang menuju para sahabatnya dengan penuh derita di wajah dan badannya.
Para sahabat berkata: “Inilah yang aku takutkan terjadi padamu.”
Maka jawabnya: “Musuh-musuh Allah itu hanya perkara kecil bagiku sekarang. Andaikata engkau inginkan lagi, tentu aku akan berangkat seperti ini lagi besok.”
Jawab mereka: “Cukup bagimu.” Mereka telah mendengarkan apa yang mereka benci.”
    Peristiwa hebat ini menjelaskan sejauh mana Abdullah Ibn Mas’ud mengalami pengorbanan demi memperoleh keredhaan Allah dan Rasul-Nya. Pemuda miskin ini berani menghadapi mereka tanpa dukungan kabilah yang ia miliki, menghadap (kaum) Quraisy yang memiliki harta yang berupa kekuasaan. Ia memikul beban gangguan dengan redha asal mereka dapat mendengarkan apa yang mereka benci.
    Ketika Nabi mengizinkan sebahagian sahabatnya berhijrah, Abdullah Ibn Mas’ud berhijrah dua kali. Saat itu ia mencapai usia dewasa lalu kembali ke Makkah setelah jumlah kaum muslimin bertambah, dan Islam bertambah kekuatan, kemuliaan dan pertahanan.
    Ketika Rasulullah mengizinkan hijrah ke Madinah, Abdulah Ibn Mas’ud ikut hijrah dan menjumpai Mu’adz Ibn Jabal. Di situlah Nabi mempersaudarakan antara umat Islam. Beliau mempersaudarakan antara Abdullah Ibn Mas’ud dengan Zubair Ibn al-Awwam dari kalangan Muhajirin, dan antara Abdullah Ibn Mas’ud dengan Mu’adz Ibn Jabal dari kalangan al-Ansar. Ia memperoleh keuntungan yang banyak kerana dekatnya dengan Nabi. Ia mendirikan rumahnya berdekatan dengan masjid Rasul.
    Nikmat yang dikurniakan oleh Allah kepada Abdullah Ibn Mas’ud ini menjadikan para sahabat berharap seandainya mereka juga boleh memperoleh seperti itu. Mereka berkata: “Sesungguhnya ia boleh masuk saat kita terhalang, dan dapat menyaksikan saat kita hadir.” Mereka menganggap hal tersebut sebagai kurnia yang melimpah kerana dekatnya dengan tempat Rasul.
    Sebahagian dari perkara yang menunjukkan amat cintanya Nabi SAW kepada Ibn Mas’ud adalah beliau memintanya membaca beberapa ayat Al-Quran al-Karim. Suatu ketika Rasulullah bersabda kepadanya: “Bacalah untukku, hai Abdullah.” Jawab Ibn Mas’ud: “Aku membaca untukmu? Padahal wahyu diturunkan kepadamu?”
Jawab Nabi, “Sebenarnya aku ingin mendengarkan Al-Quran dari selain diriku.”



Sabtu, 4 Disember 2010

LELAKI KACAK HADIS YANG MENARIK
Rasulullah s.a.w bersabda:' bila seseorang lelaki itu mati dan saudaranya sibuk dengan pengebumiannya
berdiri seorang lelaki yg betul-betul kacak dibahagian kepalanya.
bila mayatnya dikapankan,lelaki itu berada diantara kain kapan & simati.

selepas pengebumian,semua orang pulang ke rumah,2 malaikat mungkar dan nakir,datang ke dalam kubur  dan memisahkan lelaki kacak ini supaya boleh menyoal lelaki yang meninggal itu seorang diri tentang ketaatan nya kepada ALLAH,tetapi lelaki kacak itu berkata.

''Dia adalah temanku dan dia adalah kawanku.aku tak kan meninggalkannya seorang diri walau apa pun.
jika kamu ditetapkan menyoal,jalankanlah tugasmu.
aku tidak boleh meninggalkannya sehingga aku dapati dia dimasukkan kedalam syurga''.

selepas itu dia berpaling kepada temannya yang meninggal dan berkata,.Aku adalah Al-Quran
yang mana kamu membacanya,kadang-kadang dengan suara nyaring dan kadang-kadang dengan suara yang perlahan.
jangan bimbang, selepas selesai di soal siasat dari malaikat mungkar dan nakir,
kamu tidak akan bersedih.

selepas soal siasat selesai,lelaki kacak mengatur untuknya daripada Al-Mala'ul A'laa (malaikat dalam syurga)
tempat tidur dari sutera yang di penuhi bauan kasturi.

Rasulullah s.a.w bersabda,.'di hari pengadilan di hadapan ALLAH,
tiada syafaat yang lebih baik darjatnya dari Al-Quran,mahupun dari nabi atau malaikat